KISAH

JALAN REJEKI

10:26 PM


 
Sumber: noviarahma.blogspot.com

 

 

“Buku paketannya sudah diambil tadi pagi. Coba di-crosscheck dengan temannya.”
            “Tapi Mas, teman saya barusan telepon. Dia baru saja yang kesana. Tahu-tahu tidak diberi buku paketannya, katanya sudah ada yang ambil. Padahal belum diambil.”
                “Coba di-crosscheck dulu, Mbak. Di data kami, sudah diambil.”
           Akupun mencoba menjelaskan dengan detail duduk perkaranya. Namun semakin kucoba dengan berkata sehalus mungkin, semakin cepat pihak penerbit itu menghalau kata-kataku sebelum rampung kuucapkan. Sampai akhirnya kupilih mengalah.
                “Ya, Mas. Saya crosscheck...”
           Kututup telepon. Pikiranku terus berputar. Tak henti-hentinya memikirkan kejadian ini. Mana mungkin sudah ada yang ambil. Aku hanya meminta suamiku sendiri untuk mengambil sepaket buku gratis dari penerbit itu. Buku itu nantinya akan mengisi rak buku Rumah Baca yang sedang aku rintis ini. Terus siapa??? Kalau bukan suamiku yang mengambilnya. Karena aku masih sendirian merintisnya.
           Berbagai pertanyaan yang memang sengaja tak kusampaikan ke pihak penerbit, berkelebatan di pikiran. Kenapa sampai ada oranglain yang mengambilnya? Padahal bukti untuk bisa mengambilnya, suamiku yang bawa, proposal dengan halaman muka yang dicap pihak penerbit, dilengkapi dengan nomor teleponnya. Sebenarnya sudah sejak pertengahan bulan ramadhan kemarin suamiku kesana. Dan kata pihak sana, belum bisa melayani karena akan mulai libur Idul Fitri. Jadi ini kali keduanya suamiku gagal membawa pulang sepaket harta karun itu.
Tak habis pikir kenapa ini bisa terjadi. Pasalnya, kutahu betul karakter pemiliknya. Orangnya sangat ramah, mudah bergaul, dan royal. Untuk mendapatkan sepaket buku gratis ini, syaratnya tidak susah amat. Hanya membawa proposal permohonan bantuan buku gratis untuk perpustakaan. Lalu pulang langsung dapat bukunya. Tetapi, ternyata kuharus menerima kenyataan yang jauh dari angan.
Kuteringat pesan simbah yang diwakilkan ungkapan jawa. Rila lamun ketaman, ora getun lamun kelangan. Yaitu ikhlas jika tertimpa musibah, tidak menyesal jika kehilangan. Sebaiknya kuikhlas menerima segala pemberian baik dari manusia maupun dari Tuhan. Termasuk pemberian berupa musibah.  Lalu tidak menyesali jika kehilangan sesuatu. Karena lewat kejadian ini ku bisa belajar berserah diri dan pasrah terhadap semua kemungkinan yang terjadi. Tentu saja pasrah kepada Allah SWT setelah segala daya dan upaya telah kutunaikan sebaik mungkin. Karena memang segala sesuatu yang terjadi, baik maupun buruk menurutku itu atas ijinnya. Allah Maha Tahu apa yang baik untukku. Buruk menurutku belum tentu buruk menurut-Nya. Ini hanya sebagian kecil dari ujianku agar selalu ingat kepada-Nya.
Untuk itu, Ditengah-tengah kekacauan pikiran, ku harus berhati-hati mengambil sikap. Setelah usahaku memenuhi aturan membuat proposal itu dengan dilengkapi deskripsi Rumah Baca yang kurintis, Suamiku bertandang kesana dengan itikat baik dan menerima keputusan dengan sikap baik. Suamiku tidak memaksakan kehendak kami kepada penerbit. Kami pasrah. Ku harus sadar bahwa disini sebagai tamu. Apalagi hendak akan meminta bantuan. Maka hendaknya tamu menghormati tuan rumah. Rejeki memang pemberian Tuhan. Namun, bisa lewat siapa saja. Bersopan-santun dengan sesama, wujud usaha menjemput rejeki. Sejenak kuberdiam diri. Berharap Tuhan memberi pencerahan.
Ini usaha terakhirku. Kuketik sms untuk adminnya.
Maaf mas, buku paketannya belum saya terima sama sekali. Saya hanya menyuruh seorang saja untuk mengambilnya dengan membawa bukti berupa proposal yang dicap. Baru jam ini yang mau mengambil tetapi tidak diberi paket buku karena katanya sudah ada yang mengambil. Padahal kami belum mengambilnya. Saya sudah crosscheck. Maaf mengganggu.
Sangat hati-hati sekali kupilih Kata per kata isi sms itu. Agar tidak terkesan memaksa maupun menindas dan mendikte. Aku pun menunggu tanggapan pihak sana.
Silahkan mengambil lagi hari senin ya mbak
Itu balasannya. Murni tanpa tanda baca.
Aku sedikit lega. Insya Allah ini menjadi rejekiku. Segera saja kutelepon suamiku. Memberi kabar gembira ini. Alhamdulillah suamiku masih mau kesana untuk mengambilnya. Dan ini yang ketiga kalinya. Tak ada rasa gondok sekalipun di suaranya.
“Ya, Dek. Besok senin kuambil. Tapi, kalau nggak bisa keambil lagi, ikhlasin saja ya...”
“Ya, Mas. Semoga saja bisa keambil.”
           Hmm...berarti masih 5 hari lagi. Aku harus bersabar. Karena hari ini hari Rabu.
***
Ternyata tak sampai disitu ujiannya. Malam senin, suamiku menyuruhku mem-print proposal permohonan itu lagi.
“Lho, kenapa ngeprint lagi, Mas? Yang kemarin mana?” nampak jelas rasa kuatir menjalar di suaraku.
“Diambil sama adminnya.”
“Lho, kok diambil? Kan bukunya nggak dikasih? Kenapa Mas nggak minta dikembalikan?”
“Sudah aku minta, Dek. Tapi nggak dikembalikan. Ya sudah, aku pamitan.”
“lha trus pake apa ngambilnya besok? Kalau pakai proposal baru, mana mungkin percaya. Pakai yang ada cap-nya saja nggak percaya, kok.”
Gemuruh hatiku berkorbar mencari penenang. Akupun pasrah ditengah kalutnya hati. Kalut karena sudah tak punya barang bukti. Lalu, harus pakai apa aku berjuang? Hanya dengan keyakinan bahwa jika rejeki nggak akan kemana, hatiku tenteram. Juga karena suamiku yang pembawaannya selalu tenang dan santai ini membuatku belajar mendahulukan pikiran jernih daripada emosi. Emosi hanya akan mengacaukan segalanya. Termasuk arah datangnya rejeki melalui pandangan oranglain terhadap kita. Hal satu-satunya yang selalu sukses meredam emosiku yaitu menyerahkan segala hal yang aku tak tahu sebab musababnya pada Allah. Karena itu ghaib atas penglihatanku.
***
Pagi-pagi sekali suamiku memanaskan motornya. Tumben sekali ia pergi kerja sepagi ini. Ternyata ia menyempatkan diri untuk mengambil paket buku terlebih dulu, setelah itu baru ia kerja—rencananya begitu. Dalam hati aku bergumam, permudahkanlah perjalanan suamiku ya Allah. Jarak tempuh yang akan dilaluinya begitu jauh. Jika diakumulasikan perjalanannya membutuhkan waktu kurang lebih 3 setengah jam.
Di rumah, sudah tak sabar aku ingin mendapat kabar. Kukirim pesan kepadanya. Menanyakan apakah ia mendapatkan paket itu. Lama sekali pesanku tidak dibalas. Hari sudah beranjak sore, aku tersadar bahwa masa aktif pulsanya habis hari ini, tadi malam ia mengatakkannya. Saya harus puas dengan sabar menunggunya pulang.
Dari kejauhan suara motornya terdengar. Kuberanjak menunggunya di depan pintu. Kardus apakah itu? Apa benar kardus buku paketan? Kok besar sekali, memanjang dan ada segel susu disampingnya. Ah, pasti bukan kalau buku. Aku tak mau gegabah gembira. Karena mungkin ini isinya susu. Susu untuk diberikan di komunitas yang di koordinatorinya. Sampai adzan Isya’ berkumandang ia tak kunjung bercerita. Aku berinisiatif menanyakannya.
“Tadi gimana, Mas? Nggak bisa bawa pulang lagi?”
“Lho? Itu apa, yang ada di kardus. Belum kuberitahukah?”
Aku bergegas mendekati kardus. Kubuka lakban yang mengelilinginya.

“Aku kira isinya susu buat komunitasmu. Ada tulisan susu (bermerk) disamping ini, Mas.”
Suamiku tertawa lirih. Menertawai keluguanku.






               


You Might Also Like

24 komentar

  1. rejeki memang gak kemana ya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. butuh usaha dulu biar tahu rejeki buat kita atau bukan.. hehe.

      Hapus
  2. Ikhlas jika tertimpa musibah dan tidak menyesal jika kehilangan, alangkah indahnya jika kita mampu spt itu ya mbak...Smoga sukses GA-nya

    BalasHapus
  3. Hihihihi.. kalau udah rejekinya gak bakalan kemana, eh tapi ceritanya menarik Mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, betul.. Trimakasih saudaraku.. :D

      Hapus
  4. Bagus Mbak ... terharu membacanya. Mbak Sarah dan suami sama2 suka beraktivitas sosial ya ... moga berkah buat keluarganya ya Mbak ...

    Sedikit ralat saja utk tulisan kesana --> ke sana :)
    Sukses ya Mbak saya juga pengen ikutan ini tapi belum nulis :)

    BalasHapus
  5. Trimakasih mbak mugniar.. amiin..

    Iya, ini masih belajar nulis.. EYD juga.. hehe

    BalasHapus
  6. Jadi terkesima dan baca sampai runtut akhir mba. Sukses untuk GAnya juga :)

    BalasHapus
  7. Nasihatnya bijak banget... susah jalaninnya...hehe..
    Sukses GAnya ya Mbak.

    BalasHapus
  8. Tulisannya bagus mbak...saya membacanya sampai terbawa tegang..harap2 cemas bagaimana akhirnya...alhamdulillah ya,kalo udah rejeki gak akan kemana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih mbak.. saya juga tegang pas kejadiannya.. :D

      Hapus
  9. Rejeki sudah ada yang atur yak...

    BalasHapus
  10. ikutan kontes sadar hati juga ya mbak hehe toss mbak, semoga sukses ya

    BalasHapus
  11. Ashobru yuiinu ala kulli amalin, sabar menolong semua permaslahan, semoga skses GA nya ya!

    BalasHapus
  12. Saat kita ikhlas.. kita malah dapat apa yg kita harapkan ya.. good story :)

    BalasHapus
  13. Rejeki memang tak kemana ya Mbak... Saat kita mengiklhaskan sesuatu yang menjadi hak kita...saat itu pula Allah mencatatnya sebagai sebuah doa... Alhamdulillah keikhlasan Mbak berbuah manis... Dan apa yang Mbak harapkan ternyata kembali... Memang ada banyak cara menjemput rejeki bahkan berliku-liku ya... Dan rejeki yang memang menjadi hak kita insyaAllah akan tetap kembali kepada kita...

    BalasHapus
  14. Rejeki nggak akan tertukar ya mbak

    BalasHapus
  15. seru bacanya :D
    makasih udah berbagi :)

    BalasHapus

SUBSCRIBE


Like us on Facebook