BUDAYA INDONESIA

JAMU WARISAN BUDAYA

2:09 AM


sumber: carapedia.com
Bicara tentang warisan leluhur, dari dulu hingga sekarang, jamu salah satu warisan yang tak lekang oleh waktu. Keanekaragaman hayati Indonesia membuat potensial ditemukannya obat-obatan alami yaitu tanaman herbal sebagai bahan pembuatan jamu yang berupa bagian tubuh tumbuhan seperti akar-akaran, daun-daunan, kulit, batang dan buah. Yang termasuk akar-akaran yaitu jahe, lempuyang, temulawak, kunyit, kencur, lengkuas, dan bengle. Itu semua sering kita gunakan sebagai bumbu rempah. Sedangkan secang, sambang, brotowali, dan adas, masuk dalam daun-daunan. Lalu buahnya meliputi jeruk nipis, ceplukan dan nyamplung. Kayu manis sebagai kulit pohon yang sering digunakan dalam jamu. Selanjutnya, bunga melati dan alang-alang.

Jamu diracik secara khusus dan resepnya diturunkan secara turun temurun, meski memang setiap resep dari satu orang dengan lainnya pasti berbeda. Jamu telah terbukti khasiatnya, teruji berabad-abad lamanya sejak zaman nenek moyang sebelum ilmu pengetahuan tentang obat-obatan modern masuk ke Indonesia.

MENELISIK SEJARAH JAMU
Masyarakat jawa menyebut obat tradisional Indonesia dengan sebutan jamu. Istilah jamu muncul pada zaman Jawa Baru. Istilah “jamu” berasal dari singkatan dua kata bahasa Jawa Kuno yaitu “Djampi” dan “Oesodo”. Djampi berarti penyembuhan yang menggunakan ramuan obat-obatan atau doa-doa dan ajian-ajian sedangkan Oesodo berarti kesehatan. Pada abad pertengahan (15-16 M), istilah oesodo jarang digunakan. Sebaliknya istilah jampi semakin popular dikalangan keraton. Kemudian sebutan “jamu” mulai diperkenalkan kepada publik oleh “dukun” atau tabib pengobat tradisional.
sumber: bimbingan.org
Relief Candi Borobudur pada masa Kerajaan Hindu-Budha tahun 722 M merupakan bukti bahwa jamu sudah ada sejak jaman dulu dan sering dimanfaatkan. Relief tersebut menggambarkan kebiasaan meracik dan minum jamu untuk memelihara kesehatan. Bukti sejarah lainnya yaitu penemuan prasasti Madhawapura peninggalan Kerajaan Hindu-Majapahit. Dari prasasti ini kita dapat mengetahui adanya profesi “tukang meracik jamu” yang disebut Acaraki. Selanjutnya Para ahli botani mempublikasikan tulisan-tulisan mengenai ragam dan manfaat tanaman untuk pengobatan. Sehingga jamu yang dulunya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja pada saat sekarang ini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat baik orang tua maupun muda, anak-anak maupun orang dewasa.
Seperti yang dilansir oleh http://javanessia.com/aboutjamu.htm, penelitian tentang jamu Indonesia telah dilakukan oleh Rumphius , seorang botanis yang hidup pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia yaitu tahun 1775 Masehi. Ia menerbitkan buku berjudul 'Herbaria Amboinesis'. Sebuah penelitian sains terhadap jamu, Pusat Penelitian Pengobatan Herbal di Taman Botani Bogor. Yang hasil akhirnya adalah diterbitkannya buku berjudul 'Medical Book for Children and Adults' (Buku Kesehatan bagi Anak dan Orang Dewasa), yang disusun oleh E. Van Bent . Seminar pertama kali tentang jamu di Indonesia diadakan di Solo pada tahun 1940, diteruskan oleh gabungan organisasi-organisasi Jamu Indonesia di tahun 1944. Pada tahun 1966, seminar tentang jamu diadakan lagi di kota Solo. Kemudian pada tahun 1981, sebuah buku berjudul 'The use of Medical Plants' (Kegunaan Tanaman Obat) dibuat untuk mensupport (membantu) industri jamu di Indonesia.

RAGAM JAMU


sumber: health.kompas.com
Menurut khasiatnya, jamu dibedakan menjadi 2 macam yaitu jamu untuk mengobati macam-macam penyakit dan Jamu untuk kebugaran. Namun jamu siap minum yang sering kita temui di penjual jamu gendongan maupun di pasar hanya beberapa macam saja yaitu beras kencur untuk pegal linu, kunir asam untuk menjaga kesegaran tubuh, kudu laos bermanfaat menurunkan tekanan darah, sinom sama seperti kunir asam untuk menghilangkan panas dalam, cabe puyang khasiatnya juga sama dengan beras kencur, pahitan dimanfaatkan untuk berbagai macam masalah kesehatan, kunci suruh digunakan wanita untuk mengobati keputihan dan uyup-uyup untuk meningkatkan produksi susu ibu. Selebihnya, jamu yang telah diracik  diperjualbelikan dengan cara dikemas sederhana dalam bentuk bubuk atau paket racikan seperti galian singset untuk melangsingkan dan kebugaran tubuh, galian putri terbuat dari delima putih berkhasiat untuk menjaga kesehatan tubuh dan kecantikan kaum wanita, galian parem untuk wanita setelah melahirkan membuat badan jadi sehat dan segar serta melancarkan keluarnya air susu.

JAMU DULU DAN KINI
sumber: joglosemar.com
      Racikan resep jamu dari dulu hingga sekarang tidak jauh beda namun pasti memiliki komposisi berlainan antar satu penjual dengan lainnya. Akan tetapi yang lebih mencolok, jamu di era modern ini memiliki bentuk lebih praktis yaitu dalam bentuk kapsul maupun tablet yang kini lebih dikenal dengan sebutan obat herbal.  Meski sekarang ini masih dijumpai jamu gendong, dan jamu siap minum di pasar tradisional tetapi tidak banyak pelakunya.
Obat-obatan herbal memiliki nilai lebih dibanding jamu yaitu jangka waktu kadaluarsa lebih panjang dan praktis dibawa keman-mana serta lebih meyakinkan. Hal ini dikarenakan komposisi, cara penggunaan, dan label nama brand pun jelas serta mutu terjamin oleh BPOM. Sehingga kita lebih merasa aman meminumnya.
Ada juga jamu siap saji yang mempunyai nama dan terkenal seperti jamu jago, jamu nyonya meneer, jamu sido muncul, jamu air mancur, dsb. Hal ini tentunya karena mutu mereka terjamin. Mereka pun juga menjual ramuan jamu dalam bentuk kemasan yang bisa dibawa pulang dan diminum sesuai kebutuhan.
sumber: manuherbal.blogspot.com

Harga antara jamu gendong atau jamu pasar dengan jamu siap saji bermerek serta obat herbal pun sangat jauh. Jamu gendong dapat kita nikmati hanya dengan harga kisaran Rp 1.000,00 – Rp 5.000,00. Jamu siap saji antara Rp 10.000,00 keatas tetapi tidak sampai ratusan ribu. Obat herbal dapat kita beli dengan harga lebih mahal dibanding keduanya. Nah dari sini kita bisa memilih ingin membeli yang mana sesuai kebutuhan setelah menilik berbagai kelebihannya masing-masing.


sumber:
Pengalaman Lapangan


You Might Also Like

2 komentar

  1. Balasan
    1. Iya mbak. Terlebih ibu menyusui, kelihatan sangat ketergantungan sama jamu. Hehe. Ketergantungannya disebabkan banyak manfaatnya.

      Hapus

SUBSCRIBE


Like us on Facebook