JANGAN BERPIKIR JADI PENULIS!

8:11 PM




BUKU                    : Writerpreneurship! 
PENULIS               : Dwi Suwiknyo
PENERBIT            : Salma Idea
TAHUN TERBIT  : Agustus 2014

Judul diatas saya ambil dari salah satu sub bab dari bab Writhinking yang ada di buku WRITER PRENEURSHIP karya Pak Dwi Suwiknyo. Memang sangat menyentak sekali. Bagaimana tidak? Jika kita bercita-cita ingin jadi penulis, kok malah disuruh “Jangan Berpikir Jadi Penulis”. Eits, tahan dulu emosinya. Hihihi. Kalau dicermati dalam-dalam sih, iya bener banget. Apalagi setelah membaca bab ini. Tidak sedikit sindrom ini kerap melanda Writer Wanna Be (salah nggak nulisnya?). termasuk saya ini, dulu seringkali menunda-nunda menulis dikarenakan belum menguasai teknik. Setelah wara-wiri ikut kelas menulis yang kerap diadakan di grup-grup kepenulisan alasannya jadi karena malu kalau dibaca banyak orang. Lha njud mau sampai kapan, hah??? Kalau begini terus nggak kan selesai-selesai dong masalahnya.
Tidak perlu berpikir dulu berapa halaman yang mampu ditulis. Pokoknya tulis semua yang tengah kita pikirkan, dan kita rasakan ... Gunakan bahasa sendiri, tidak usah ragu,tak perlu memikirkan kaidah bahasa ... Tuliskan! Jika tidak mulai menulis, maka kita cuma berpikir jadi penulis. Nah, BERHENTI Berpikir Jadi Penulis, so langsung menulis saja. (Hal: 31)
Nah, sangat mudah sekali bukan? So, setelah membaca buku ini, saya pun juga menerapkan demikian. Saya sudah tidak pusing-pusing lagi memikirkan tetek bengek. Yang penting nulis aja dulu, yang lain-lainnya bisa dilatih sambil nulis. Jangan lupa baca-baca blog orang, artikel website, buku, majalah, dan boleh kok baca note facebook orang. Karena apa? Karena ini akan menambah khasanah gaya menulis kita secara nggak sadar. Tahu-tahu pas selesei nulis, lho ternyata bisa juga ya aku nulis kayak begini. Hehehe. Terus kita bisa tulis semua harta karun pikiran kita lewat nge-blog. 
Maka buat kamu yang ingin berlatih menulis agar bisa lebih ekspresif, berlatihlah ngeblog. Blog, ruang publikasi yang tepat untuk berbagi opini, meluapkan emosi, atau sekadar menjadi media penyampai renungan-renungan hidup ... (Hal: 115)
Well, buku ini sukses membuat saya ngebet nulis. Dari prolog sampai epilog, saya nggak kuat nahan luapan emosi meletup-letup pengen segera nulis dengan segala keterbatasan saya. Nekat banget kan? Hehe. No problemo! Kalau sudah baca buku ini anda pasti ngertiin perasaan saya, pas baca halaman 9:
Sungguh tanpa diminta pun, saat kita menulis demi kebaikan oranglain, kita akan mendapatkan pahala yang terus menerus mengalir sepanjang masa ... Pahamlah kita sekarang, mengapa para ulama begitu istiqamah menulis berpuluh-puluh kitab. Meski raga mereka sudah lebur menyatu dengan tanah, tapi kebaikan dan ilmu mereka masih menginspirasi kita sampai detik ini ...
Gaya menulis Pak Dwi Suwiknyo ini lho, yang bikin saya mudah mengerti dan langsung tancap gas nulis, nulis dan nulis. Bukunya dikemas dengan sangat apik. Saya sampai nggak sadar kalau buku ini adalah buku panduan. Bahasanya sangat ringan, nggak kaku. Jadi terasa gampang mencerna kata-katanya. Dilengkapi dengan text box yang penting banget isinya dan penggalan kisah nyata yang sangat inspiratif menambah jelas gambaran tentang isi materi yang disampaikan.

Buku ini sangat lengkap banget sebagai panduan bagi calon penulis. Kupas tuntas tentang masalah yang suka bikin galau para penulis. Ada 4 bab di buku ini: Stimulus, Writhingking, Publishing dan Fullwriterpreneurship. Tentu saja masing-masing bab dilengkapi beberapa sub bab dengan total sub bab 46 buah plus prolog dan epilog yang tak kalah menggugah. MANTAB!

You Might Also Like

3 komentar

  1. Inspiratif bgt, saya jadi ikutan termotivasi ingin menulis sesuai bahasa saya, mksh sharingnya ya mbak

    BalasHapus
  2. buku yang keren......

    *salam blogger :-)

    BalasHapus

SUBSCRIBE


Like us on Facebook