KISAH

SUAMIKU, CINTA NGGAK SIH?

1:46 AM



Sudah lama kuperhatikan suamiku. Sering kali kubertanya, apakah suamiku cinta dan sayang padaku? Mengapa demikian? Karena sejak awal berjumpa hingga akhirnya menikah dan sampai sekarang, suamiku tidak pernah memuji maupun bersikap romantis kepadaku. Suamiku lebih memilih untuk sering memberikan kritikan atas segala kecerobohanku yang berlandaskan alasan lupa atau tergesa-gesa saat lupa merapikan dapur, lupa menaruh barang, dan masih banyak atas lupa lainnya.
Coba bayangkan, bagaimana rasanya jika sebagai istri hanya mendengar suami memuji oranglain di dekat telingamu. “Dek, istrinya Pak A cantik ya ... padahal nggak pernah dandan,” kata suamiku ringan. “Eh ... iya, Mas,” jawabku terkejut. Lain waktu, saat pulang dari acara seminar, tiba-tiba saja ia berkata, “Mbak B itu aktif banget orangnya, selain menjadi guru SMK, dia sering ikut kegiatan-kegiatan organisasi dan akrab banget sama murid-muridnya.” Aku hanya diam tertegun. Bukan Cuma itu, setelah rapat lalu menjeputku pulang kerja, Suamiku dengan polos berkata, “Dek, tahu Si C kan? Dia  itu selalu rapi pakaiannya meski pakaiannya itu biasa saja, tapi terlihat anggun.” Untung saja semua wanita yang ia puji sudah ada empunya. Jadi aku tidak perlu cemburu berat—meski, sih, agak cemburu dan dongkol.
Sejak itu, aku selalu ikut serta dalam kegiatan-kegiatan suamiku baik sarasehan, seminar maupun pelatihan, yang akhirnya membawaku akrab dengan semua temannya. Selang beberapa bulan kemudian, suamiku memulai lagi membicarakan orang-orang yang dahulu ia puji. Aku terkejut tak terkira dibuatnya. “Dek, Mbak B nggak profesional banget, ia suka kalau menjadi pengurus inti, tapi nggak bertanggungjawab atas tugasnya, alasan inilah itulah, boleh sih kayak gitu tapi ya kalau nggak bisa ngerjain, mbok ya bilang ma yang lain sebelum dateline-nya. Jadi kan yang lain bisa nggantiin tugasnya, dan pekerjaan bisa kelar tepat waktu tanpa grusa-grusu ngrampunginnya.” Aku cuma bisa mengangguk setuju atas uneg-unegnya. Di lain waktu, setelah usai acara sarasehan, aku yang mengutarakan uneg-unegku, “Mas, Masak Si C itu kalau bicara kata-katanya atos banget, suka ceplas ceplos kalau ngomong, kayak nggak mikirin perasaan yang diajak ngomong”.
“Aku lebih ngerti karakternya Si C, Dek ... lha wong aku udah kenal dia sejak masih kuliah dan jadi adik angkatanku. Dia itu emang orangnya keras”, sahut Suamiku. Setelah percakapan dengan suamiku itu, aku pun sering termangu, apa sih maksud suamiku selama ini. Aku selalu terkecoh dibuatnya. Bukan hanya itu, aku dibuatnya bertanya-tanya.
Suamiku tidak pernah mengatakan kata-kata manis bujuk rayu untukku. Baik untuk menghiburku maupun tulus apa adanya—menurutku, sih. Walaupun begitu,  dia tak segan-segan membantuku memasak di dapur tanpa disuruh. Dia juga selalu menimbakan air untuk aku mencuci pakaian ataupun untukku mandi. Dia selalu memanaskan mesin sepeda motorku sebelum kuberangkat kerja dan selalu ikut mencuci pakaian jika banyak sekali cucianku serta selalu memberikan apa yang aku butuhkan/inginkan tanpa aku memintanya.
Setelah lama sekali batinku bertanya, kumulai berfikir lalu merunut kejadian-kejadian yang telah kulalui selama ini. Ku baru tersadar maksud dari semua itu setelah usai acara seminar tentang gender. Suamiku ternyata lebih dari sekedar perhatian tapi ia sangat sayang dan cinta kepadaku. Rasa cinta yang dibuktikannya selama ini ternyata lebih bernilai dari sekedar ungkapan kata-kata rayuan manis yang selalu aku tunggu-tunggu namun tak kunjung ada. Aku mulai belajar kedewasaan dalam bercinta kasih dengannya. Ternyata, ia lebih mengerti karakterku ketimbang aku. Ia mendidikku dengan cara yang aku sendiri tidak sadar jika ku sedang dididik. Dengan cara demikian, ku lebih mudah untuk diberi pengarahan. Pembicaraan-Pembicaraannya selama ini ingin mengajarkan bahwa semua orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing jangan sampai kekurangan orang lain mengukung langkahmu untuk berbuat baik serta jangan dijadikan bahan mempersulit diri yang nantinya akan membuat hati dan pikiran kotor. Selama ini, ternyata ia ingin tahu bagaimana reaksiku atas pernyataan-pernyataannya, serta ia lebih suka langsung bertindak daripada berkata manis seperti aku sayang/cinta kamu. Sungguh pelajaran yang tak terduga.
Kini, Aku sangat yakin bahwa ia sangat mencintai dan menyayangiku karena ternyata jarang sekali seorang suami mau turut andil dalam membantu pekerjaan rumah sang istri. Hal ini baru kusadari saat mengikuti seminar yang membahas masalah-masalah gender dalam kehidupan. Kini, kubelajar menerima karakter suamiku yang demikian, yang terpenting ialah bukti kecintaannya bukan kata-kata manis pujian dan rayuan. Ya, memang cara seorang suami mengekspresikan rasa cintanya berbeda-beda, salah satunya seperti suamiku ini.
Telah kutemukan jawaban atas segala tanya dan ternyata jawabannya telah terselip disetiap penantianku kala menunggu kepulangannya setiap hari. Namun, ku tak menyadarinya. Bukankah buah dari ketulusan cinta dan sayangnya adalah istri yang selalu menantikan dan merindukan kehadirannya? Tetapi, mengapa kupertanyakan hanya karena ia tak pernah mengutarakan rasa cinta, padahal manis buahnya telah kukecap setiap harinya. Cinta ternyata tak butuh alasan. Ia muncul dengan sendirinya melalui benih niat tulus dan tujuan yang mulia saat berkomitmen.



Tulisan ini dimuat di Majalah Potret Edisi 72

You Might Also Like

2 komentar

  1. Kisah hikmah yang mesti menjadi pelajaran terutama bagi pasangan rumah tangga agar saling menghargai cinta...

    Salam kenal dari Pulau Dollar

    BalasHapus
  2. Trimakasih kunjungannya.. salam kenal kembali.. :D

    BalasHapus

SUBSCRIBE


Like us on Facebook