BUAH HATI

STIMULUS TERBAIK UNTUK BAYIKU

10:20 PM


Aku tidak tahu persis, apakah ini yang dinamakan babyblues? Tetapi, karenanya aku menjadi seorang pembelajar demi anakku.

Ini semua kulakukan karena rasa takutku akan kejadian buruk yang pernah menimpaku. Aku mengalami keguguran calon anak pertama. Yang membuatku depresi hingga terlalu menyalahkan diri. Maka 2 bulan setelah kejadian itu, saat aku diberi kabar bahwasanya positif mengandung lagi, aku sangat over protektif. Baik saat mengandung maupun setelah lahiran.
Aku pernah mendengar, kita jangan sampai melewatkan moment berharga dalam mendidik anak. Yakni  masa emas anak, umur 0-3 tahun. Di masa itu kemampuannya dalam menyerap segala informasi sangat tinggi. Sehingga ini bisa dijadikan sarana dalam pembentukan karakter anak. Di masa ini, kemungkinan besar apa saja yang ia pelajari akan terpatri lebih dalam dibanding masa-masa lainnya.
Maka aku makhlum kalau mertuaku heran dengan kelakuanku dalam memanfaatkan momen ini. Pasalnya, di jamannya beliau belum ada hal semacam ini. Jadi jelas saja wajar kalau beliau selalu mematahkan dengan kata-kata setiap kali tahu usahaku itu.
Aku berusaha makan makanan seperti sayuran hijau, buah-buahan, susu ibu hamil, daging, ikan dsb. Ibu mertua selalu membandingkan dengan keadaannya hamil di jaman dulu. Katanya, jaman dulu ia makan seadanya. Tapi tidak terjadi apa-apa pada bayinya. Aku pun menjadi tidak keras kepala dalam pemenuhan asupan ini, tidak seperti awal-awal hamil. 
Jadi kubeli kebutuhan makanan ini sesuai selera saja, karena aku mengalami nyidam saat hamil. Dan yang pasti sesuai dagangan yang ada di tukang sayur keliling. Hehe. Saya jadi rajin memetik daun pepaya untuk lalapan. Sebelumnya aku sering rewel minta diantarkan ke pasar untuk beli ini itu karena ketakutan terjadi apa-apa pada bayiku di kandungan. Namun setelah dipikir-pikir, ibu saja tidak apa-apa makan seadanya. Berarti sugesti itu penting pengaruhnya bagi kesehatan ibu hamil dan kandungannya. Kini yang terpenting kuambil sisi positifnya sajalah. Aku tidak lagi menuruti hawa nyidam. Ku penuhi asupan gizi dengan benar dan cara yang sederhana. Semoga ini bisa menjadi jalan mendidik anakku untuk hidup sederhana, tidak rewel, dan tidak merepotkan oranglain. Amin..


Alam umur seminggu
Lalu saat persiapan persalinan. Ini adalah hari yang kutunggu-tunggu. Bukan saja senang karena akan memiliki anak. Tetapi juga senang karena waktunya belanja perlengkapan bayi. Hehe. Jauh-jauh hari sudah kusiapkan daftar barang yang akan kubeli. Sesampainya di pasar, ternyata tidak sesuai rencana. Suamiku selalu menegurku saat memilih dan membeli, terutama pada jumlahnya. Lagi-lagi ini semua karena aku takut kalau kurang jika tidak membeli cukup banyak. Xixixi. Maka saat di kios pakaian bayi tak tanggung-tanggung aku minta 1 lusinan lebih per itemnya. Tapi setelah suamiku ikut campur memilih dan memilah, hanya setengahnya saja yang dibeli. Katanya, badan bayi cepat sekali tumbuhnya. Jadi eman-eman kalau tidak kepakai nantinya, padahal baru saja beli. Lebih baik sering beli tapi sedikit-sedikit jumlahnya, sesuai kebutuhan. Hmm, aku mendengus. Manut saja. 
Dan benar sekali kata suamiku itu. Setelah prakteknya, memang bayiku tumbuh pesat. Pakaiannya gampang sesak. Wah, kalau saja dulu tidak nggugu suami. Bakal membengkak nih biayanya hanya buat pakaian. Mending ditabung buat kebutuhan lainnya. Hehe. Untungnya aku termasuk tipe istri manutan, meski sebelumnya ngeloyor punya pemikiran sendiri.

Alam Tidur Pulas (umur 5 bulan)
Aku jadi paham bahwasanya stimulus bagi bayi adalah semua perlakuan kita padanya baik yang dilihatnya maupun tidak. Jadi benar adanya, kalau kita sedang mengandung disuruh menjaga sikap perilaku kita. Hihihi. Nah untuk stimulus terbaik untuk bayiku, aku pilih yang original saja. Dengan kata lain tanpa dibuat-buat. Aku manfaatkan hal apa saja yang ada di sekitaranku.

Belajar dari sekitar

Saat bayiku membutuhkan stimulus dari mainan, memang aku ribut menyuruh suami membelikan. Tapi tentu aku sudah hapal wataknya. Ia hanya membeli 3 macam saja. Itu pun yang gampang dimainkan. Icik-icik, bola kecil, dan boneka karet yang bisa bunyi ketika diremas. Aku diam saja. Pasti ada alasannya. Tapi aku malas menanyakannya. Hehe.

Bermain Angry Bird
 Waktu itu, dedek baru umur 2 bulanan saat dibelikan. Setelah umur 4 bulanan, aku baru tahu kenapa suami begitu. Ternyata, dedek gampang bosan dengan mainan yang itu-itu saja. Ia lebih tertarik dengan benda-benda rumah di sekitarannya. Ia bermain sepak tangan dengan benda apapun. Yang paling ia sukai yaitu kaleng bekas minuman setelah bosan menyepak bola. Aku jadi tidak perlu susah-susah mencarikan mainan. Apapun yang diberikan, bisa jadi mainan. 

Bermain dengan benda-benda
Tapi itu juga hanya sementara. Saat ini, Sesuai tahap tumbuh kembangnya di usia 8 bulan. Ia sedang mengeksplor semua alat indranya dengan memegang, merambat, merangkak, bergumam, tertawa lepas, bercanda, mengamati, dsb. Setiap pagi dan sore selalu mengajak keluar rumah. Ia tidak begitu suka digendong. Ia akan berusaha melepaskan diri dari gendongan. Ini tandanya ia ingin merangkak bebas. Sekarang ia lebih suka bermain tanah dan meremas dedaunan yang berguguran di halaman rumah. Jika sudah capek membuntutinya, maka aku ataupun ibu akan membiarkannya bermain di dalam bak.
Awalnya saya cerewet saat sang suami membiarkan si dedek marangkak bebas di atas tanah lalu bermain tanah. Namun setelah melihat kelincahan bayiku merangkak sambil tertawa, aku jadi luluh. Ini bisa menjadi salahsatu cara awal mengenalkan dan mencintai alam sekitar.

Bermain Tanah

Untuk  bahasanya. Aku biasakan berbicara dengan Bahasa Jawa Krama sejak dini, meski ia belum bisa berbicara. Agar nantinya, sejak kecil ia terbiasa berbahasa krama dengan orang yang lebih tua darinya tentunya. Hal ini kulakukan karena agar porsi bahasanya seimbang. Sebab di sekolah nantinya sudah diajarkan bahasa selain bahasa jawa. Juga supaya identitas kelokalan anak saya ada. Sebab saya takut ia akan menjadi gunjingan masyarakat kalau tidak bisa berbahasa daerah sesuai ia bertempat tinggal dan lahir di sini.
Salahsatu kegemaranku, mencari informasi tentang segala hal mengenai tumbuh kembang anak. Terkadang kita harus kreatif mengaplikasikan pengetahuan tersebut sesuai kondisi. Baik kondisi si bayi maupun adat istiadat. Dengan harapan anakku nantinya mampu beradaptasi, ramah dengan tradisi, mandiri, sehat jiwa dan fisiknya. Juga tentunya sholeh sholekhah. 
Membekali anak harus dengan sangat hati-hati. Terkadang apa yang kita kira baik belum tentu terbaik. Untuk setiap orangtua pasti beda kriteria terbaik. Karena memang latar belakang kita berbeda. Semua tergantung dengan pengalaman masing-masing. Sekarang, rasa takutku itu sirna. Kini, aku percaya stimulus terbaik untuk bayiku adalah akulturasi antara kemajuan IPTEK dan kearifan lokal yang dilandasi ilmu agama. Untuk itu aku tidak pernah menampik usulan dan nasehat mertuaku yang notabene “orang kuno” dalam hal cara merawat dan mengasuh anak. Kelak, anakku juga boleh memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan catatan, kalau sudah paham fungsinya, sudah waktunya membutuhkan, dan sudah bisa dipercaya. Tentunya ini membutuhkan proses dan strategi.

Nah, itu kisahku ... Bagaimana dengan bunda?


Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Every Mom Has A Story #stopmomwar

You Might Also Like

6 komentar

  1. gemessss deh lihat si adik. Apalagi pas bobok

    BalasHapus
  2. sayang aku belum jadi mom jadi blm bs ikutan GA ini hiks hiks.. semoga menang ya mak

    BalasHapus
  3. Trimakasih mak arin dan mak dian.. ;)

    BalasHapus
  4. serunya menjadi ibu ya, mulai dari persiapan lahir sampai mengurusnya he. sukses dengan GAnya

    BalasHapus
  5. Melihat tumbuh kembang anak memang sangat menyenangkan, dari mulai kelucuannya, tingkah polahnya,

    BalasHapus
  6. saya juga gak pernah ngalamin ngidam mak... :)
    Itu bobonya bikin gemes deh...

    BalasHapus

SUBSCRIBE


Like us on Facebook