TIPS MENULIS

ALLAH MENOLONGKU LEWAT CITA-CITA

9:58 AM

Setiap ibu di dunia pasti menginginkan hal terbaik bagi dirinya dan keluarga. Begitu pula aku, menjadikan cita-cita berprofesi sebagai penulis adalah keputusan terbaik bagi kehidupanku dan keluargaku.
Hal tersebut terjadi, berawal dari rasa trauma kehilangan janinku yang berumur hampir 4 bulan karena kelelahan bekerja. Aku merasa sangat bersalah dan berjanji pada diriku tak akan bekerja lagi. Aku merasa ini adalah teguran bagiku karena jam kerjaku yang dari pagi hingga sore bahkan malam membuat aku tak sempat mengurus keperluan suami bahkan diriku sendiri.
Yang paling membuatku kapok adalah ketika aku terbaring lemah di ranjang rumah sakit ternyata saat itu pula ‘Bos’ memecatku. Aku menyadarinya saat sore hari, saat suamiku mengambil HP ku dari tas. Aku ingat bahwa tadi siang suamiku tak sempat pamit saat menjemputku di tempat aku kerja dan terburu-buru menyelamatkanku dan calon anak kami ke rumah sakit.

Belum sembuh dukaku atas kepergian calon anakku, aku mendapat berita yang menyayat hati. Suamiku pulang dari mengambil gaji terakhirku. Ia berikan amplop itu padaku. Kubuka amplop itu. Kutemukan 2 lembar uang seratus ribu. Sontak air mataku luluh lantah. Inikah hasil kerja kerasku selama ini? Hingga ku ‘korbankan anakku’? Aku semakin bertekad tak ingin bekerja di luar. Aku tak ingin kejadian ini terulang lagi. 

Ternyata tak cukup hanya tekad kuat untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Karakterku yang tak bisa hanya mengerjakan urusan domestik rumah tangga membuatku jenuh ada di rumah. Aku ingin punya kegiatan lain selain memasak, menyapu, mencuci baju, dsb. Tapi apa? Aku tak mungkin melanggar janjiku. 

Hobi baruku membaca artikel online dan bersosial media telah memberikanku petunjuk atas kegundahanku. Aku membaca artikel tentang sosok wanita insipirasi para wanita, Teh Indari Mastuti lewat Grup IIDN. Darinyalah aku dapatkan cita-cita baru. Yakni menjadi penulis. Dengan menulis, aku bisa bekerja dari rumah tanpa meninggalkan keluarga dan urusan domestik. Jadwalnya pun bisa disesuaikan, kapanpun bisa menulis. 

Bersamaan dengan kabar bahagia, bahwasanya aku hamil lagi, aku semakin mantap menjadikan Penulis sebagai profesiku kelak. Aku pun mulai menempuh jalan setapak demi setapak untuk mewujudkan cita-citaku. Aku ingin menjadi penulis buku. Aku ingin menuliskan pengalaman dan hikmah yang kudapatkan dari jalan hidupku. Oleh karenanya aku pun tambah aktif bersosial media dan browsing informasi tentang kepenulisan. Dari Facebook aku bertemu dengan sosok inspirasiku, Mbak Ari Kinoysan. Dari beliaulah aku dapatkan tips-tips menjadi penulis. Aku pembaca setia status facebook-nya. kulakukan semua tips-tips itu, mulai dari meng-add akun para penulis, bergabung ke grup-grup kepenulisan, membeli buku-buku panduan menulis, dan ikut pelatihan menulis.

Dari semua itulah aku mulai masuk ke dunia kepenulisan. Aku dapatkan banyak teman seperjuangan, aku mulai ikut berbagai event lomba menulis, berkali-kali gagal, dan sesekali mendapatkan hadiah Give Away dari teman penulis. 

Dua tahun sudah aku kumpulkan aneka tips menulis dan latihan menulis namun belum ada hasilnya. Ya, aku mulai gundah. Hingga aku temukan status teman yang juga seorang blogger sering ikut lomba-lomba menulis di blog. Keuntungan lainnya dari blog, mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan seperti job review, ghost writer, google adsense, affiliate, dsb. Aku pun mulai tertarik membuat blog. Tak tanggung-tanggung, aku juga ikut pelatihan membuat blog. Aku mulai aktif menulis di blog. Namun kegiatan ngeblog terjeda saat aku melahirkan anak pertamaku.

Aku mulai sibuk mengurus anak belum sempat aktif menulis lagi. Akan tetapi aku masih aktif mencari informasi tentang ilmu menulis dan kelas-kelas menulis. Hingga aku dapatkan informasi tentang Kelas Kursus Skenario Bea Siswa di Rumah Pena, yang dibina oleh Mbak Achi TM dan Mas Agung Argopo.
Tak disangka, dunia skenariolah yang membawaku merasakan sensasi berkarya dan memperoleh penghasilan lewat menulis. Aku semakin percaya bahwa masing-masing orang punya pintu rejekinya masing-masing. Ada yang diberi kemudahan sebagai Blogger, ada yang menjadi Penulis Novel, ada yang sebagai penulis buku. Tugas masing-masing hanyalah berusaha dan mengambil kesempatan.

Jauh di lubuk hatiku masih tersimpan cita-cita menjadi blogger dan penulis buku. Mungkin harus aku urai kembali kisah hingga aku sampai di titik ini. Dan aku temukan bahwa tak ada hal instan terwujud. Semua butuh proses. Maka ketika cita-citaku menjadi penulis buku dan blogger belum terwujud, mungkin dikarenakan suatu hal. Yakni pondasi niat dan motivasiku menulis ada yang salah. Maka tugasku kini men-set ulang niat dan motivasiku menulis.

Memang ketika proses belum membuahkan hasil, di titik inilah Allah menguji mental kita. Bila yang kita tuju adalah materi maka ketika belum menghasilkan materi, kita akan mudah goyah dan hati tak tentram. Bagiku motivasi utama mencari materi malah melemahkan usaha menggapai cita-cita.
Oleh karenanya aku tak akan lagi menulis untuk mencari materi. Tapi aku menulis karena wujud syukurku diberikan kesempatan belajar banyak hal lewat membaca, wujud tobatku atas kesalahan-kesalahanku yang telah lampau, dan wujud lain ibadahku pada Allah. Hatiku kini tentram. Karena hanya mengharap ridho-Nya dengan menjadi bermanfaat bukan hanya untuk keluarga, tetapi bermanfaat untuk semua orang.
Aku yakin bila yang diniatkan adalah untuk Allah dan menjadi pribadi yang bermanfaaat maka Allah akan memudahkan jalanku. Materi, ketenaran, teman banyak, dsb, hanyalah hadiah dari Allah, bukan tujuan utama menulis.

Namanya ibadah dari waktu ke waktu haruslah bertambah baik tata caranya. Maka aku harus belajar lebih banyak ilmu menulis supaya tulisanku berkualitas. Alhamdulillah, Allah menghapus kesedihanku 2,5 tahun lalu lewat cita-cita. Kini aku bisa mengejar cita-citaku bersama keluarga disampingku dan mengharap keberkahan karenanya.

You Might Also Like

0 komentar

SUBSCRIBE


Like us on Facebook