BUDAYA INDONESIA

MENGENAL BUDAYA PANGGILAN SAPAAN DI BATAK

7:38 AM

Indonesia memang kaya budaya, setiap daerah memiliki budayanya masing-masing. Peribahasa jawa menyebutnya, “Desa mawa cara, Negara mawa tata.” Yang artinya desa mempunyai adat sendiri dan Negara memiliki tatanan aturan atau hukum tertentu.

Kali ini saya ingin membahas budaya sapaan yang terkadang membuat canggung si penyandang sapaan tersebut. Seperti dalam keluarga saya yang notabene orang Jawa. Alam (anak saya) yang baru berumur 2 tahun 3 bulan, sudah mulai dibiasakan memanggil Aini (Adik saya) yang berumur 8 tahun, dengan sapaan “lek”. Lalu memanggil Dedi (Saudara Sepupu saya) yang belum menikah, dengan sapaan “Pakdhe”.

Hal ini sangat membuat canggung si penerima sapaan tersebut. Sapaan itu semua diberikan berdasarkan garis keturunan. Bila tidak ada hubungan saudara, Aini cocoknya dipanggil “Mbak” karena masih muda. Dan Dedi cocoknya dipanggil Om, karena belum menikah. Haha.

Kali ini mata saya terbuka. Ternyata tak hanya orang jawa yang memiliki kata panggilan sapaan kepada keluarga maupun saudara kerabatnya yang terkadang membuat canggung si penyandang sapaan tersebut. Pastilah masih ada adat-adat sejenis di daerah lainnya. Namun kali ini saya ingin membahas sedikit adat sapaan Orang Batak. 

Saya tahu adat ini berkat salah satu postingan menarik dari Anita D’caritas (nama popularnya di jagat blogger) di rumah mayanya www.anitadcaritas.blogspot.co.id yang berjudul “Panggil Aku Butet”.

Dalam cerita fiksi tersebut Anita D’caritas yang memiliki nama asli Anita Carolina Tampubolon bercerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Batak pada umumnya yang terwakilkan dengan tokohnya, seorang gadis bernama Marisa Sat yang memiliki panggilan “Butet” yang disandangnya. Layaknya warisan, panggilan “Butet” ini pun turun temurun diberikan, mulai dari kakak pertama, kakak ke dua, kakak ke tiga, kakak ke empat, kakak ke lima, dan kini Marisa Sat mendapat giliran menyandangnya.

Ia dipanggil dengan sapaan sayang tersebut oleh ayahnya. Sebenarnya senang sekali mendapat giliran tersebut, namun memang sedikit canggung, karena seolah nama aslinya sedikit tersamarkan dan hilang. Karena selalu dipanggil “Butet” dalam situasi apapun. Seolah “Butet” itulah nama aslinya. Hingga terpikirkan apakah panggilan “Butet” ini akan hilang setelah kedua orangtuanya memiliki “Ucok”?

Sampai suatu masa, kakak-kakak Marisa Sat telah memiliki suami satu per satu. Dan kini ia mendapat kesempatan menyenangkan memanggil kakak-kakak ipar laki-lakinya tersebut dengan panggilan “Ucok”. Serasa menang lomba, akhirnya sapaan yang mampu memberi efek canggung tersebut bisa diberikan ke semua kakak iparnya. Hehe.

Itu tadi sekilas kesamaan efek adat suatu daerah yang sampai sekarang masih bisa kita rasakan. Terlepas dari rasa canggung, adat panggilan sapaan tersebut adalah simbol bagaimana daerah kita sangat menghormati dan mengasihi saudara-saudaranya serta menjaga keutuhan keharmonisan bersama.

Berikut sekilas profil Mbak Anita, seorang penulis sekaligus Bidan. Selain cerita fiksi tersebut, Mbak Anita sangat terlihat cinta daerah asalnya, Batak. Ibu satu anak ini tampak cantik dengan balutan pakaian adat Batak saat Festival Tortor Agustus 2014 yang diikutinya.

dok. Anita
dok. Anita
dok. Anita

You Might Also Like

2 komentar

  1. Terimakasih tulisannya Mba Sarah :)
    Indonesia ragam budaya, sapaan di setiap daerah juga berbeda-beda. Senang bisa tau juga sapaan yang sering diucapkan bagi masyarakat Jawa...

    BalasHapus
  2. Paling suka tulisan yang nyeritain kekayaan Indonesia :)) Makasih banyak mbaaak :D

    Salam,
    Senya

    BalasHapus

SUBSCRIBE


Like us on Facebook